Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu.
Nak…..
Malam ini rasanya sulit sekali memejamkan mata…
Bulan timbul tenggelam di lautan awan, gerimis sesekali menyapa bumi.entahlah….rasa apa yang sedang berkecamuk saat ini. Namun hujan tak turun jua.
Ketahuilah….nak, sebenarnya aku sangat gundah dengan kondisi saat ini.
tapi sayang, jangan terlalu bersedih….
Serahkan semua pada YANG MAHA PENGATUR HIDUP.
Seperti firman ALLAH, “Tiada selembar daun keringpun yang jatuh di permukaan bumi ini tanpa kehendak-NYA dan tiada seekor semut hitam berjalan di kegelapan malam tanpa sepengetahuan-NYA” . JANGAN DUKA
ANAK KU
Tidak seorangpun tau apa yang akan terjadi,
Hari ini kita tertawa, bercanda … tapi tentu bukan untuk selamanya…
Entah berapa waktu yang disediakan buat kita.
Saat mata tak bisa terpejam aku berusaha menuliskan sesuatu yang mungkin kelak berguna atau setidaknya untuk dikenang ketika aku sudah tidak berada disampingmu.
Nak, menjadi ayah dan Ibu itu indah dan mulia.
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta .
Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Tapi kami akui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisi kami, kami seperti menemui keberadaan kami, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakan dan Keibuan terhadapmu.
Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling kami banggakan didepan siapapun.
Bahkan dihadapan Tuhan, ketika kami duduk berduaan berhadapan denganNya, hingga saat usia senja ini.
Nak, pertama engkau hadir, kami cium dan kami peluk engkau sebagai buah cinta kami.
Sebagai bukti, bahwa kita tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Kecuali oleh kehendakNya.
Tapi seiiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata “TIDAK”, timbul kesadaran siapa engkau dan kami, sesungguhnya. Engkau bukan milik kami, Bukan milik Ayah dan bukan juga milik Ibu nak.
Engkau lahir bukan karena cinta Ayah dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Allah.
Tak ada hak kami menuntut pengabdian darimu.
Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Allah.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya kami dan engkau.
Dan dalam waktu panjang dimalam-malam sepi, kami sesali kesalahan kami itu sepenuh-penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkan kami.
Sejak saat itu , satu-satunya usaha kami adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu.
Melakukan segala sesuatu karenaNya, bukan karena Ayah dan ibumu.
Tugas kami bukan membuatmu dikagumi orang lain, melainkan agar engkau dikagumi dan dicintai oleh Nya.
Inilah usaha terberat kami, Nak, karena artinya kami harus lebih dulu memberl contoh kepadamu .mendekatkan diri pada yang memilikimu.
Keinginan kami harus lebih dulu sesuai dengan keinginanNya.
Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu bersama, tak pernah engkau kami hindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam.
Kami cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan Jiwa satu sama lain
Agar dapat kau rasakan perjalan ruhaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti.
Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak.
Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus airmatamu, ketika kau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan Tuhan, dan kami dapati jarak kami amat jauh dariNya, kami akan ikhlas.
Karena seperti itulah kami didunia.
Tapi, kalau boleh kami berharap, kami ingin saat itu melihatmu dekat denganNya.
Kami akan bangga Nak,
Karena itulah bukti bahwa titipanNya bisa kami jaga dan kami kembalikan kepadaNya.
Daftar Pustaka: Surat Ayah On Facebook.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar